FITNAH
Entah kenapa malam ini begitu sepi kurasakan. Hiruk pikuk warga kampung yang biasanya terlihat ramai. Kini semuanya seakan terdiam diri di rumah. Hanya sesekali kulihat pedagang sekoteng yang menjajakan dagangannya.
Aku duduk sendiri di halaman rumah. Ditemani secangkir kopi sambil menikmati indahnya cahaya bulan malam ini. Aku jadi teringat kejadian kemarin pagi. Sebuah kecelakaan dahsyat antara dua pengendara sepeda motor tepat di depan toko Pak Manto. Kedua pengendara tersebut langsung menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian tersebut. Anehnya tidak ada yang mengetahuinya sama sekali waktu itu. Karena kecelakaan tersebut terjadi ketika masih pagi-pagi buta. Baru sekitar pukul tuju-an ada yang mengetahuinya. Tak lain adalah Pak Manto. Pada waktu itu dia mau membuka tokonya.
Pak Manto pun langsung terbujur kaku ketika melihat ada dua mayat yang sudah tak berdaya tergeletak di jalan depan tokonya. Sontak pak manto dan istrinya langsung berteriak minta tolong warga lainnya. Warga kampung pun langsung berbondong-bondong menyaksikan kejadian pilu di pagi hari tersebut. Entah kenapa kejadian tersebut ibarat sebuah magnet yang cepat menyedot perhatian masyarakat.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut kampungku menjadi sangat sepi. Seperti yang Aku rasakan sekarang ini. Warga yang biasanya suka keluyuran dimalam hari. Kini mengurungkan niatnya tersebut baik untuk sekedar jalan-jalan ataupun nongkrong. Toko Pak Manto pun terkena imbasnya. Toko yang biasanya banyak dikunjungi warga untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kini menjadi sangat sepi sekali.
Kejadian mengerikan pada pagi hari tersebut menjadi buah bibir dimana-mana. Setiap lapisan masyarakat pasti membicarakan kejadian tersebut. Bahkan sampai-sampai ada masyarakat yang menghubung-hubungkan dengan keberadaan toko Pak Manto. Dan munculah sebuah persepsi dimasyarakat luas bahwa kedua mayat yang meninggal pada pagi hari tersebut merupakan tumbal dari Toko Pak Manto. Kini masyarakat mulai beranggapan bahwa larisnya toko Pak Manto tersebut tak lain akibat ilmu guna-guna Pak Manto atau warga kampung biasa menyebutnya dengan nyupang.
Meskipun itu hanya isu dari mulut kemulut, dan belum tentu kebenarannya. Membuat masyarakat banyak yang mempercayai isu tersebut. Dan membuat keberadaan keluarga Pak Manto mulai dikucilkan oleh warga kampung.
“Aku gak habis pikir, kenapa di zaman yang serba canggih ini masyarakat masih mempercayai hal-hal takhayul seperti itu”, tanyaku pada Andi yang dari tadi menemaniku ngobrol.
“Ya..mungkin itu karena masyarakat kita yang jauh dari pendidikan”, jawab Andi sambil memandangku.
“Tapi aku kasihan sama Pak Manto. Dia yang kena getahnya akibat kejadian dan berita miring tersebut”
“Aku juga sama”, seloroh andri mendukungku.
“Aku yakin semua isu yang beredar dimasyarakat itu bohong. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu. Apalagi kita kenal Pak Manto adalah orang yang taat pada agama”.
Pak manto memang seorang pendatang didesaku. Lima tahun lalu dia dan keluarganya pindah setelah sekian lama merantau di kota Jakarta. Aslinya dia adalah orang Solo. Namun karena peran temannya, sekarang dia tinggal di kampung ini. Dia menyewa sebidang tanah dekat jalan raya dikampung ini. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Pak Manto mendirikan sebuah toko kecil-kecilan.
Awal mula kehadiran tokonya. Langsung disambut baik oleh warga kampung. Apalagi ditambah oleh kepribadian pak manto yang ramah dan baik hati. Namun memang keluarga Pak Manto cenderung tertutup, sehingga kurang bisa menyesuaikan dan bergaul dengan masyarakat sekitar.
“Aku gak nyangka bu”
“Kenapa”
“Ituloh Pak Manto, ternyata dia pakai guna-guna sebagai penglaris tokonya”
“Huss..kamu jangan ngarang”.
“Jangan ngarang gimana wong semua warga desa membicarakan mereka”.
“Tapi itu kan belum terbukti kebenarannya toh..”
“Belum terbukti gimana wong kemarin jelas-jelas kedua pengendara motor yang tewas tersebut di depan rumahnya”
“Itukan bisa saja kebetulan toh”.
Keluarga pak manto memang menjadi buah bibir masyarakat kampung. Untungnya keluarga pak manto tetap tegar dan sabar menghadapi kondisi seperti ini. Kini warungnya sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan masyarakat. Semuanya seakan menaruh curiga kepadanya. Bahkan ada yang saking fanatiknya. Tidak mau memakan atau mengkonsumsi barang yang dibeli dari tokonya. Tak lain adalah pak marjo. Dia adalah seorang warga kampung asli sini yang juga mempunyai toko. Hanya berjarak beberapa meter saja dengan tokonya Pak Manto. Sejak awal mula kedatangan keluarga pak manto di kampung ini, Pak Marjo memang sudah kurang suka kepadanya. Apalagi ketika tahu keluarga pak manto membuka sebuah toko. Toko pak marjo merasa tersaingi oleh keberadaan toko pak manto.
Setelah meluasnya desas-desus kejadian tersebut. Menjadi sasaran empuk Pak Marjo untuk menghancurkan keluarga Pak Manto. Pak marjo adalah orang yang paling bersemangat dan yakin betul bahwa kecelakaan yang mengakibatkan dua orang meninggal tersebut merupakan tumbal dari keberadaan toko Pak Manto. Sampai-sampai Pak Marjo punya usulan agar warga kampung bersama-sama untuk mengusir dan membakar warung pak manto. Untungnya hal itu keburu dilarang oleh Kades setempat karena tidak cukupnya bukti-bukti yang kuat.
“Saya yakin kecelakaan yang menyebabkan dua orang meninggal tersebut merupakan Tumbal dari guna-guna pak manto”, gertak pak marjo dengan suara lantang.
“Ya..benar sebelum ada korban lebih banyak lagi mari kita usir bersama-sama dari kampung kita”, dukung salah satu warga.
“Tenang..tenang..kalau tidak ada bukti yang kuat kita jangan main hakim sendiri”, jawab kades sambil menenangkan para warga.
Aku sendiri bingung melihat hal ini. Apa yang harus aku perbuat untuk menghilangkan citra buruk Pak Manto yang sudah terlanjur jelek dimata masyarakat. Pernah kucoba untuk membela pak manto dihadapan para warga, tapi masyarakat malah menilai aku sebagai pengikutnya.
Apa boleh buat. Sangat sulit untuk merubah karakter masyarakat yang cenderung masih mempercayai hal-hal mistis berbau takhayul yang memang sangat sulit dierima akal sehat. Padahal kebanyakan dari mereka adalah orang-orang beragama yang mempercayai akan Takdir Tuhan. Tetapi kenapa mereka masih percaya pada makhluk halus guna-guna tersebut yang cenderung malah menyesatkan kita semua dan bisa dikatakan musyrik.
******
Dua bulan sudah berlalu, tetapi isu Pak Manto tak urung surut menjadi buah bibir masayarakat. Bukannya malah hilang. Tetapi malah semakin banyak yang termakan isu tersebut. Bahkan isu tersebut sudah tercium sampai ke kampung tetangga.
Malam itu begitu dingin. Angin seakan-akan telah memeluk erat tubuhku. Ingin kucoba melepaskannya tapi apa daya angin malah semakin bersatu dan menyerang tubuhku. Sekarang memang sedang musimnya pancaroba. Atau banyak orang bilang musimnya penyakit. Musim ini sangat sulit ditebak. Ketika siang hari panas begitu menyengat, tetapi ketika malam tiba udara menjadi dingin berhembus.
Malam itu aku putuskan untuk keluar rumah. Siang tadi aku lupa untuk membeli obat nyamuk. Maklum nyamuk adalah musuh bebuyutanku pada malam hari. Aku memang termasuk orang yang gak peduli pada isu tersebut. Disaat orang-orang mulai menjauhi Pak Manto. Aku malah semakin akrab dengan keluarga Pak Manto. Sesekali Aku memberi motivasi kepadanya supaya tetap sabar dan tegar menghadapi cobaan seperti ini. Karena Aku sendiri yakin masyarakat akan tahu hal yang sebenarnya. Bahwa isu tersebut jauh dari kebenaran.
Kulangkahkan kaki dari halaman rumahku. Jaket tebal membungkus tubuhku. Sedikit demi sedikit mulai meninggalkan rumah. Ketika hampir sampai ditoko Pak Manto. Aku melihat pemandangan yang tidak biasanya. Sepertinya Pak Manto dan keluarganya sedang berkemas-kemas. Apa mungkin dia mau pergi dari desa ini karena ada masyarakat yang mengusirnya. Yang jelas dalam otakku terbersit sebuah tanda Tanya.
“Mau kemana pak sepertinya sedang berkemas-kemas”.
“Kamu toh nak. Ngagetin bapak aja”.
“Maaf pak tadi gak sempat ngucapin salam”.
“Oh gak papa. Ada apa nak malam-malam datang kesini?”.
“Tadinya mau beli obat nyamuk tapi setelah sampai sini kok tokonya sudah tutup. Aku malah melihat bapak sedang berkemas-kemas”.
“Sepertinya bapak sudah tidak pantas lagi tinggal disini”.
“Iya nak kita semua mau pergi jauh”.
“Tapi kenapa harus malam-malam gini?”.
“Justru itu nak supaya warga kampung tidak ada yang mengetahui kepergian kita”.
“Sebenarnya menurut aku gak usah buru-buru memutuskan untuk pergi. aku yakin masyarakat disini akan mulai sadar”.
“Tapi kapan nak. Mereka malah semakin mencurigai kita. Cuman beberapa orang saja yang masih perhatian sama keluarga kita Termasuk kamu”.
“Ya udah..kalau itu memang sudah menjadi keputusan bulat. Mau gimana lagi. Tapi Aku pesan, kapan-kapan keluarga pak manto mau main ke kampung ini lagi kan..?”.
“Insya Allah nak. Bapak janji”.
Setelah percakapan yang cukup meneteskan air mata tersebut aku ikut membantu mengemas barang-barang Pak Manto yang akan dibawa pergi. Sangat banyak barang-barang yang akan dibawanya. Maklum sepertinya Pak Manto tidak akan pernah balik lagi ke kampung ini. Dan melupakannya untuk selama-lamanya, karena dikampung ini dia mengalami kejadian yang membuatnya tersudut.
Pak Manto sekeluarga pun pergi dengan menggunakan mobil angkot yang sengaja di sewa untuk mengantarkannya sampai ke terminal. Bersama istrinya dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Aku melambaikan tangan. Tak terbendung air mata menetes menahan duka yang di alami keluarga pak manto.
******
Satu bulan sudah telah berlalu. Keluarga pak manto kini seakan telah hilang bagai ditelan bumi. Warga pun sudah mulai melupakan isu tentang Pak Manto. Semua warga merasa setelah kepergian keluarga Pak Manto kampung ini menjadi aman kembali. Bangunan toko Pak Manto pun ramai-ramai dibongkar oleh warga yang dipimpin oleh Pak Marjo, karena dianggap sebagai pembawa sial.
Dua hari kemudian ada sebuah kabar buruk yang lagi-lagi menggegerkan warga kampungku. Masyarakatpun seakan tak percaya mendengar kabar tersebut. Sebuah kecelakaan dahsyat antara sebuah mobil dengan sepeda motor tepat di jalan raya depan toko Pak Marjo. Tiga penumpang kendaraan tersebut meninggal ditempat kejadian.
******
SEKIAN
DI GERBONG KERETA
Sore itu, aku sudah benar-benar memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku di Subang. Hampir sudah setengah tahunan aku tidak pulang. Terakhir kali aku pulang hari raya ‘Idul Fitri kemarin. Rasa kangenku sama keluarga, teman-temanku dan semua yang ada dirumah sana semakin terasa. Dua tahunan sudah aku melewati kuliahku di kota Yogya. Kota yang telah memberiku banyak pengalaman dan kenangan-kenangan yang mungkin tidak akan aku lupakan selamanya.
Segala barang-barang dan keperluan sudah aku masukkan dalam ransel besar. Karena liburan memang cukup panjang, Sekitar dua bulanan. Cukup lah untuk melepas kerinduanku dirumah, bahkan mungkin terlalu lama. Tak lupa pula aku membawa buku-buku kuliahku, meskipun hanya sebagian. Entah sampai rumah dibaca atau tidak. Yang jelas cuman ingin nunjukin kalau kuliahku di Yogya sungguh-sungguh.
“Tiket jurusan Jakarta pak…satu,” pintaku sama petugas tiket kereta, sambil mengambil dompetku dari saku celana untuk membayar tiket tadi. Seraya petugas tiketpun memberikan tiket jurusan Jakarta.
Meskipun tempat tinggal aku di Subang, tetapi aku tetap membeli tiket jurusan Jakarta, karena tidak ada harga tiket khusus Subang. Semua kereta api yang berhenti di yogya, yang turunnya antara Cirebon dan Jakarta, tarif tiketnya tetap sama memakai tarif Jakarta.
“Jam berapa pak keretanya datang,” tanyaku lagi sama petugas tiket.
“Maaf mas sepertinya akan telat datang sekitar satu jam-an, karena waktu di Surabaya ada perbaikkan sedikit,” jawab petugas tiket sambil tetap menunjukan wajah ramahnya.
“Ya dah makasih pak…,” ucapku sambil beranjak meninggalkan tempat pembelian tiket.
Sial bener, padahal aku sudah terburu-buru dari kos tadi, sampai sini ternyata keretanya telat. Sampai satu jam lagi. Dasar kebiasaan orang Indonesia waktunya selalu saja ngaret, gumamku dalam hati sambil menahan kesal.
“Kereta jurusan Jakarta Pasar Senen akan segera tiba di jalur tiga, dimohon kepada seluruh penumpang agar bersiap-siap,” pengumuman dari petugas kereta api melalui pengeras suara yang terdengar keras di sebagian sudut stasiun kereta api.
Akhirnya kereta yang sudah lama aku tunggu datang juga. Akupun segera bersiap-siap menyambut datangnya kereta dari arah timur. Seraya juga dilakukan oleh seluruh penumpang yang akan menuju arah Jakarta. Kulihat memang suasananya cukup ramai sekali sore itu. Rata-rata penumpangnya adalah mahasiswa yang akan pulang kampung. Karena memang sebagian Perguruan Tinggi di Yogya sudah memasuki liburan.
Sedikit demi sedikit kereta mulai melaju meninggalkan stasiun. Akupun masih dipinggir pintu masuk kereta. Benar-benar sangat ramai sekali didalam kereta. Tidak hanya di jejali para penumpang, namun para penjualpun tidak kalah banyaknya. Padahal dalam peraturannya pedagang asongan dilarang masuk. Namun itu sebatas sepanduk yang tidak berguna. Para pedagang pun ingin makan. Seandainya pemerintah bisa ngasih pekerjaan yang yang lebih layak lagi bagi mereka, tidak masalah. Tapi masalahnya tidak ada jaminan seperti itu dari pemerintah. Yang membuat heran, berbagai macam barang dagangan ada di dalam kereta. Mulai dari makanan, pakaian, sampai alat-alat dapur pun ada dalam kereta. Membuat suasana dalam kereta semakin bising dan sumpek. Belum ditambah lagi pengemis, pengamen bahkan pencopet sekalipun yang memang kita tidak akan bisa mengenalinya. Suasananya sungguh panas, ditambah terkadang bau-bau kurang sedap hinggap di hidung, entah dari bau badan para penumpang atau dari dalam WC yang sangat menyengat, karena sangat kotor dan tidak terawat.
Seandainya aku punya uang banyak mungkin aku akan memilih kereta api kelas bisnis ataupun eksekutif, yang pasti lebih nyaman dari ini. Tapi karena uang aku terbatas dan pas-pasan harus rela naik kereta kelas ekonomi.
“Tempat ini kosong ya pak…?,” tanyaku pada seorang bapak yang sedang duduk disebelahnya.
“Mari nak…duduk aja tempat ini kosong kok…,” jawab bapak tadi sambil mempersilahkan aku duduk, meskipun tanpa senyum tapi tetap ramah. Akhirnya aku bisa dapatkan tempat duduk juga setelah jalan dari gerbong depan sampai gerbong terakhir kedua dari belakang.
“turun dimana nak…?,” Tanya lagi bapak tadi sambil menghisap sebatang rokok.
“di subang pak…,” jawabku sambil menurunkan tas yang sudah dari tadi aku gendong.
Akhirnya terjadi perkenalan dengan bapak tadi. Ternyata namanya pak marto. Dia naik dari Surabaya. Aslinya madura, namun akan mengunjungi anaknya yang menjadi penjual sate di Jakarta.
Di sebelah kiri pintu kereta. Kulihat seorang lelaki dan wanita. Kelihatannya masih kuliah, sedang asik ngobrol. Mereka tampaknya sengaja untuk tidak duduk dikursi dan lebih memilih duduk di samping pintu masuk kereta. Mereka sangat akrab dan mesrah. Sepertinya mereka sepasang kekasih. Mereka tidak menghiraukan sama sekali suasana riuh dan bising dalam kereta. Mereka sangat asyik ngobrol. Sesekali mereka saling tertawa dengan kompaknya. Menjadikan aku teringat sama mantanku asti. Akupun terlelap dalam lamunan.
Asti adalah orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Semua berawal dari perkenalanku dengan dia ketika berada di perpustakaan Kampus. Waktu itu aku masih semester satu. Karena kita ternyata saling suka. Aku putuskan dengan dia untuk pacaran. Hampir satu tahun aku pacaran dengan dia. Namun ketika masuk semester tiga. Asti mutusin untuk pindah kuliah di Semarang karena permintaan orang tuanya. Awalnya Asti ingin kuliah di fakultas psikologi UGM, namun karena tidak lolos seleksi ia mutusin untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogya, yang akhirnya mempertemukan aku dengan dia. Namun sebenarnya Orang Tuanya tidak setuju kalau asti kuliah di Perguruan Tinggi Swasta. Akhirnya sekarang Asti menuruti keinginan orang tuanya pindah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Semarang.
Setelah dia tidak di Yogya lagi Asti tidak pernah menghubungi aku sama sekali. Entah dia sudah punya yang lain dan akhirnya ngelupain aku. Nomor HPnya sudah tidak aktif lagi, meski sudah aku coba menghubunginya berkali-kali. Padahal di antara kita belum ada kata putus. Aku benar-benar harus menerima semua hal ini. Aku Cuma bisa menatap wajah dia lewat foto ukuran 3X4 yang dia kasihkan ketika baru pertama jadian. Aku selalu berharap suatu saat bisa dipertemukan lagi dengan asti.
“Waktu tamasya ke Binaria…pulang-pulang kok berbadan dua..”
Ah… aku begitu terlarut dalam lamunan. Dasar pengamen waria itu membangunkan aku dari lamunan. Dengan membawakan lagu jablai yang pernah tenar dibawakan Titi Kamal.
“Mau makan nak…” tawar bapak yang duduk di depanku sambil mulai menyantap makanan tersebut.
“Iya…makasih pak…,” jawabku sambil mencoba ku ingat-ingat kembali sampai mana lamunanku tadi.
Kulihat lagi di pintu sebelah kiri kereta. Pasangan lelaki dan wanita tadi semakin asyik bercanda ria. Sangat beruntung sekali lelaki tersebut mendapatkan wanita yang dia inginkan, dan tidak di tinggalkan kekasih hatinya seperti diriku ini. Aku pikir mungkin mereka sudah lama menjadi sepasang kekasih. Terlihat sangat mesra dan akrab sekali mereka ngobrol.
“Nak…sudah sampai mana…?,” Tanya seorang ibu yang duduk di sampingku.
“Kurang tau ya bu…” jawabku sambil merasa kebingungan.
Kulihat disamping tempat dudukku semua orang sedang asik ngobrol. Ada yang ngobrolin tentang kenaikan harga kedelai, ada yang ngobrolin tentang kenaikkan harga BBM, dan ada juga yang ngobrol tentang bisnis. Yang jelas mereka semua asyik ngobrol ngalor-ngidul.
Suasana semakin larut, kereta terus melaju dengan kencang. Sehingga udara malam yang masuk lewat celah-celah jendela kereta semakin menusuk tubuhku.
Kupandangi lagi sepasang lelaki dan wanita tadi. Tampak mereka mulai berpelukan mesrah. Karena udara yang memang sangat dingin sekali. Aku membayangkan seandainya asti ada disampingku saat ini, mungkin aku tidak akan kedinginan seperti ini. Tubuhku akan benar-benar merasa hangat bersama dia.
Suasana kereta semakin bertambah sepi. Karena memang waktu yang sudah semakin larut. Semua orang yang tadi asik ngobrol mulai terlelap dalam tidurnya. Sejenak mereka lupakan penatnya kehidupan. Semua orang-orang disampingku, didepanku dan dibelakangku semuanya tertidur. Hanya beberapa pedagang yang masih tampak berseliweran menjajakan dagangannya. Aku terus memandangi sepasang lelaki dan wanita tadi yang semakin mesrah.
Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Cirebon. Beberapa orang sibuk akan turun. Yang tak luput dari pandanganku, sepasang lelaki dan wanita tadi, mereka berdua tampaknya menangis. Entah ada apa. Ternyata wanita yang bersama lelaki tadi akan turun di stasiun Cirebon. Mereka tak henti-hentinya menangis sambil berpelukan. Sampai kereta berjalan lagi. Mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan mereka. Betapa aku juga ikut merasa sedih ketika mengingat-ingat perpisahan ku dengan asti dulu.
Kini kulihat lelaki tadi melamun sendiri disamping pintu kereta. Tak seperti tadi ketika aku lihat dari Yogya mereka asik bercanda ria. Bahkan sampai berpelukan mesrah. Kini dia sendiri, sambil merasakan udara dingin waktu yang menunjukan hampir pagi ini.
Kucoba beranjak dari tempat dudukku. Aku ingin mendekati lelaki tadi. Aku ingin berkenalan dengan dia. Mungkin apa yang dia rasakan sama ketika aku di tinggalkan Asti dulu. Sekalian ku ambil tas karena memang stasiun Subang sudah semakin dekat jaraknya.
“Itu pacar kamu ya…?,” tanyaku sambil dengan tingkah sok akrabku dan memandangi lelaki tadi yang masih melamun. Namun lelaki tadi tetap diam.
“Sudah berapa lama pacaran sama dia, pasti sudah bertahun-tahun ya…?,” tanyaku lagi, sambil merasa tidak sabar menunggu jawaban dia.
Lelaki tadi sejenak menarik napas, lalu dia berkata, “aku baru kenalan sama dia,” jawabnya, yang membuat aku terheran-heran dan tak sabar menanti jawabannya lagi.
“aku baru kenal dia ketika waktu berangkat dari Surabaya tadi, kebetulan kita di pertemukan di gerbong ini sama dia,” jawabnya lagi dengan agak terbata-bata.
Aku benar-benar terdiam dan merasa heran atas jawaban lelaki tadi.
“subang….subang…” kata seorang penjual mengingatkan para penumpang.
Ternyata kereta sudah sampai subang. Akupun segera turun dari kereta dan meninggalkan lelaki tadi, dengan masih menyisakan sejuta Tanya dalam benakku.
Yogyakarta, 22 Maret 2008
Oleh : Munawir
Mahasiswa Fakultas Syari’ah
Jurusan Keuangan Islam
CINTA ADALAH SURATAN TAKDIR
Waktu yang terus bergulir, ternyata bisa merubah perasaan hatiku. Persahabatan kita yang sudah berjalan hampir dua tahun, tak terasa bisa menumbuhkan buih-buih cinta suci. kita sudah mengikrarkan diri untk menjadi menjadi layaknya adik dan kaka. Aku lebih memilih hubungan kita sebagai adik dan kaka, karena semata-mata aku tidak ingin kehilanganmu. Seandainya kita jadi sepasang kekasih, aku takut hubungan kita tidak bisa berjalan lama, karena jarak kita yang sudah semakin jauh. kita sudah berbeda ruang dan waktu. betapa anehnya persahabatan kita yang sudah berjalan dua tahunan hanya sebatas lewat SMS atau Telefon. Belum pernah sama sekali meskipun hanya satu detik kita ngobrol bertatap muka langsung. tapi itu bukanlah suatu penghalang, karena terkadang cinta hadir tanpa diduga-duga. kita hanya pernah bertemu beberapa kali, itupun Cuma sekilas. hanya saling melempar senyum saja. aku tidak tahu sebenarnya apa yang ada di dalam fikiranmu. setiap kali ada waktu & kesempatan untuk main kerumahmu selalu saja kamu mencari-cari alasan, yang ujung-ujungnya aku tidak jadi main. Aku sadar mungkin dulu kamu menolak aku untuk main kerumahmu waktu itu kamu sudah punya pacar. mungkin kamu takut dianggap selingkuh oleh orang lain, jadi selalu menolak aku untuk main, atau mungkin ada alasan lainnya, aku tidak tahu itu.
Mendengar dirimu punya kekasih yang lain, sebenarnya sangat membuat hatiku terbakar, tapi aku mencoba untuk selalu sabar dan menerimanya, karena kita memang sudah saling sepakat menjadi kakak dan adik saja. aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya kamu bisa mendengar kata hatiku yang sebenarnya saat ini. Sejujurnya aku ingin memliki dirimu seutuhnya, tapi itu mungkin sangat sulit untuk diwujudkan, karena memang keadaan diantara kita saat ini sudah seperti ini. aku tahu kalau cinta itu adalah suratan takdir. kalau kita memang sudah ditakdirkan untuk bisa bersatu dalam cinta yang sesungguhnya, maka aku yakin suatu saat kita akan dipertemukan lagi, entah kapan waktunya. tapi kalau memang tidak yah…itu memang sudah takdir. Mungkin diantara kita sudah dipilihkan yang terbaik oleh Tuhan.
Cinta tidak harus memiliki. mungkin kata-kata itu yang selalu menjadi peganganku saat ini, yang membuat hari-hariku selalu dalam keceriaan dan kegembiraan tanpa harus meratapi cinta yang kandas, karena itu sama sekali tidak berguna bagiku. Aku bisa terus selalu berdiri tanpa harus dirimu disampingku. Sekarang aku Cuma bisa berharap kamu bisa merasakan kebahagiaan dengan dengan orang lain. jangan sampai hatimu tersakiti lagi. seperti yang sudah-sudah. Kamu harus selalu menjaga ketulusan cintamu dan kesetiaanmu terhadap kekasihmu. jangan sampai patah hati lagi seandainya cintamu harus berujung dengan perpisahan.
Selain cintamu kamu juga harus bisa selalu memegang prinsipmu, cita-citamu, dan obsesi-obsesimu yang selama ini mencoba untuk diwujudkan. Jangan sampai semua itu sirna seketika karena kamu terlalu menikmati manisnya cinta sehingga lupa akan segalanya, yang mengakibatkan masa depanmu hilang sia-sia gara-gara manisnya cinta sesaat. Jadikanlah cintamu hanya sebagai motifasi dan pendorong untuk mewujudkan cita-citamu. Jangan sampai terlarut-larut dengan balutan cinta yang hanya bisa membuat hatimu terjatuh.
aku tahu saat ini kamu sudah menjadi milik orang lain. dan itu aku menerimanya dengan lapang dada, karena cintaku yang tulus ini tidak harus berarti memilikimu. cinta yang tulus ini aku jadikan sebagai cahaya untuk selalu menerangi hidup ini. meskipun nantinya cinta yang tulusku ini aku berikan pada orang lain yang benar-benar menerima aku apa adanya. Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam masih menyisakan sepercik sinar harapan untuk bisa memilikimu, dan bisa hidup bersamamu sampai aku menghembuskan nafas terakhirku, meskipun memang kemungkinannya sangat kecil sekali, tetapi apa salahnya kalau kita berharap.
jujur, sampai saat ini aku belum menemukan wanita yang cocok dengan hatiku meskipun banyak wanita-wanita cantik di sekelilingku, tapi belum ada satupun yang cocok dengan hatiku. entah karena aku belum mencoba atau memang belum ada yang cocok saja, yang jelas aku belum mau terlalal umemikirkan semua itu apalagi kuliahku baru masuk semester dua. masih sekitar tiga sampai empat tahunan lagi untuk lulus S 1, itu pun kalau benar-benar tepat waktu dan sesuai rencana. kalaupun emang sudah lulus nanti belum tentu aku bisa langsung dapat kerjaan atau penghasilan. masih perlu waktu lagi untuk mencapai semua itu. Masih banyak perjuangan dan pengorbanan lagi yang harus aku lakukan.
dengan perjalanan waktu yang masih sangat cukup panjang & melelahkan, aku selalu berharap cintaku yang suci ini senantiasa tetap terjaga. jangan sampai terkikis oleh waktu. dan semoga kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama. kalaupun tidak ya…. semata-mata itu sudah suratan takdir yang diatas. dan cintaku yang tulus ini hanya untuk wanita yang sudah di takdirkan Tuhan untuk hidup bersamaku.
TEMPE
Disuatu sore yang mendung. Kala lukisan awan hitam menjadi mimpi buruk umat manusia. Bencana banjir hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Belum ditambah bencana-bencana lain seperti gempa, tanah longsor, dan gunung meletus yang kapan saja sewaktu-waktu bisa menimpa kita. Masyarakat semakin tambah susah, sedangkan para pejabat semakin asyik menumpuk harta, entah itu benar-benar uang khalal atau hasil korupsi.
Seorang ibu setengah baya. Ibu surti namanya, baru sampai dirumah setelah seharian penuh menjajakan dagangannya. Ma’lum setahun yang lalu baru ditinggal suaminya yang meninggal dunia karena kecelakaan. Jadi dia harus menghidupi keempat anaknya seorang diri. Mereka semua masih butuh untuk biaya. Yang paling tua anaknya bernama Andi. Ia baru kelas dua SMA, dan adiknya Farida baru duduk dikelas dua MTS. Yang duanya lagi Ardi, masih kelas satu SD, dan Abi yang masih seumuran TK. Tapi karena tidak ada biaya untuk masuk TK, Abi akan langsung dimasukkan ke SD jika umurnya sudah beranjak tujuh tahun nanti.
“Bu….Abi lapar….kapan ibu mau masak?” Tanya Abi dengan suara manjanya.
“nanti nak….ibu masih cape…kan baru aja nyampe rumah” Jawab ibu surti yang terlihat sangat letih sekali.
Kehidupan keluarga ibu surti semakin terhimpit. Dagangan kuenya yang sudah berjalan sejak lima tahunan yang lalu, semakin sepi pembeli. Itu semua akibat naiknya bahan-bahan baku kue tersebut. Yang mau tidak mau ibu surti harus menaikkan harga jualnya. Seharusnya pembeli paham tentang hal itu. Tapi bagaimana lagi. Ibu surti cuman bisa pasrah. Dan akan terus menekuni pekerjaannya sebagai pedagang kue keliling, karena itulah satu-satunya jalan untuk menghidupi keempat anaknya.
“Assalamu’alaikum” ucap Andi ketika akan masuk kedalam rumah.
“Wa’alaikum Salam” jawab ibu surti.
Setiap hari selasa Andi selalu pulang sore, karena disekolahnya ada kegiatan ekstra paskibra. Belakangan ibu surti mulai kewalahan membiayai sekolah andi. Meskipun katanya disekolah ada bantuan BOS (biaya operasional sekolah) dari pemerintah, Tapi nyatanya biaya sekolah tetap sulit untuk dijangkau oleh orang sekelas ibu surti. Tidak tahu kemana sebenarnya larinya bantuan tersebut.
Sebenarnya ibu surti berharap agar Andi untuk tidak melanjutkan sekolahnya sampai SMA. Karena memang keterbatasan biaya, dan menurut ibu surti yang penting anaknya bisa baca tulis saja. Tidak seperti ibu surti sendiri yang dari kecil belum pernah sama sekali mengenyam pendidikan. Dari kecil ibu surti sudah terbiasa bekerja membantu ibunya, sampai tidak peduli sama sekali sama yang namanya pendidikan. Tapi ibu surti sebenarnya masih punya angan-angan untuk terus membiayai sekolah anaknya, bahkan sampai keperguruan tinggi. Tapi itu sebatas mimpi. Melihat kondisi tubuhnya yang sudah semakin lemah dimakan usia. Pupuslah sudah harapan-harapan itu. Ibu surti hanya berharap supaya Andi cepat lulus dari SMA dan cari kerja guna membantu ibu surti membiayai ketiga adiknya yang masih kecil-kecil.
“Andi, ardi, abi, ida sini nak…ibu sudah siapkan makanan nih..pasti kalian semua sudah lapar kan..” teriak ibu surti seraya mengajak anak-anaknya untuk makan bersama.
Andi yang baru saja selesai shalat maghrib langsung menuju kedapur sambil mengajak ketiga adiknya. Ma’lum Andi adalah anak tertua jadi harus bisa menjadi tauladan bagi adik-adiknya.
Ibu surti beserta ketiga anaknya sudah berada di dapur dan bersiap-siap untuk makan bersama. Maklum rumah ibu surti sangat sederhana dan kecil sehingga tidak ada ruangan makan. Dapur dan ruang makan semuanya menjadi satu.
Namun ketiga anaknya sangat terkejut ketika melihat hidangan dimeja makan. Hanya ada sayur asam dan sambal sebagai lauknya.
“Loh…bu…tempenya mana…biasanya ibu kan gorengin tempe buat lauknya” Tanya andi sambil menunjukan wajahnya yang keheranan.
“Nak….sekarang kalian harus dibiasakan untuk tidak makan tempe” jawab ibu surti sambil merasa prihatin.
“emang kenapa bu..” Tanya lagi ida dengan suara manjanya.
“sekarang tempe sudah menjadi makanannya orang berdasi nak” jawab lagi ibu surti layaknya seorang guru yang ngasih pelajaran sama muridnya.
“tempe yang dulu kita konsumsi tiap hari itu bahannya dari amrik loh…” lanjut ibu sambil meyakinkan anak-anaknya.
“ternyata bukan hanya motor, computer dan tv ya…yang impor dari Amrik…?” Tanya abi dengan wajah lugunya.
“Lah….terus orang Indonesia bisanya buat apa bu…wong tempe aja buatan Amrik..?” Tanya lagi farida pada ibunya.
“Ya sudahlah nak…kita pasrah aja sama apa keputusan pemerintah. Kita harus rela nak mengganti lauk kita dengan yang lebih murah dan bisa dijangkau kita” jawab ibu surti seperti layaknya seorang petuah.
Memang sungguh ironi, tempe yang sudah bertahun-tahun menjadi makanannya orang-orang kecil. Bahkan julukan otak tempe buat orang Indonesia Seakan menunjukkan kasta terendah. Kini harga tempe membumbung tinggi. Semakin sulit dijangkau orang-orang kecil. Dengan berat hati orang Indonesia harus berpaling dari tempe. Sekarang jangan berkecil hati lagi jika kita dijuluki otak-otak tempe, karena tempe sekarang sudah menjadi makanan special dan eksklusif. Malaysia saja mau mengklaim kalau tempe asal mulanya dari Negara dia. Padahal tempe memang asli makanan khas Indonesia.
Akhirnya keluarga ibu surti dan keempat anaknya makan dengan lahapnya, meskipun masih menyisakan sejuta Tanya yang harus dijawab ibu surti. Semuanya menyantap dengan asyik makanannya. Meskipun mereka harus merelakan makanan favoritnya tempe.
Aku tunggu koreksi dan kritiknya….oke…
Oleh : Munawir, Mahasiswa Fakultas Syari’ah Jurusan Keuangan Islam Semester 2.